Menjadi Guru SMP : Ketika Cita-cita tak Sejalan dengan Kenyataan

Berbicara soal pekerjaan, tidak pernah terpikir sebelumnya jika saya akan terlibat langsung dalam pendidikan, apalagi menjadi seorang guru SMP. Karena cita-cita saya pada saat masih belia tergolong umum dan sama dengan anak-anak yang lain. Mau jadi polisi, dokter, pilot dan cita-cita mainstream lainnya. Yang lebih mainstreem lagi, saat duduk di bangku SD saya pernah bercita-cita untuk menjadi presiden seperti Gus Dur. Tapi tak berselang lama dan belum tercapai, cita-cita ini harus tergerus dan terganti dengan cita-cita lama, menjadi dokter!


"Enak jadi dokter, bisa nyembuhin orang sakit dan banyak uangnya". Jawaban saya saat ditanya kenapa mau jadi dokter. Terasa lucu dan agak 'matre' sih jika dipikir sekarang. Tapi berbeda dengan saya yang dulu, jawaban ini adalah jawaban diplomatis dan bijaksana seorang calon dokter. Hehehe

Sayang beribu sayang, belum genap dua tahun berseragam putih dongker lagi-lagi saya harus rela kehilangan cita-cita itu. Karena saya baru sadar bahwa untuk menjadi dokter, modal awal yang harus dimiliki adalah menguasai ilmu sains seperti matematika, fisika kimia dan semacamnya. Sementara saya, kurang berminat dalam pelajaran tersebut.

Waktu itu saya berfikir bahwa mungkin lebih baik menjadi penulis atau penyair. Modalnya sudah ada, sering menulis diary. Dulu, saat saya duduk dibangku SLTA menulis diary sangat nge-trend, bukan hanya bersifat pribadi, melainkan saling tukar diary yang kemudian siapapun boleh mengisinya. Kegiatan ini berlalu sampai saya menyandang status mahasiswa.

Awal-awal menjadi mahasiswa saya masih tetap menggeluti hobi lama yang saya harapkan bisa menjadi pintu awal untuk mewujudkan cita-cita, menjadi penulis atau penyair. Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan baris-baris kode pemrograman dalam beberapa mata kuliah. Witing tresno jalaran soko kulino, begitulah kata pepatah jawa. Setiap hari bahkan setiap saat saya bertemu, berjumpa dan bersama dengan baris-baris kode. Hingga akhirnya, saya jatuh cinta pada baris-baris kode pemrograman!  Namanya jatuh cinta, semuanya menjadi indah. Yang awalnya saya suka nulis diary lambat laun mulai hilang karena kebersamaan saya dengan baris-baris kode tersebut. Tak berselang lama, saya kembali merubah cita-cita dan impian, saya ingin menjadi programmer.

Meski profesi ini hanya familiar dikalangan mahasiswa dan orang-orang tertentu, saya optimis bahwa menjadi programmer merupakan profesi yang sangat menguntungkan. Ditambah lagi, sebelum lulus kuliah saya sudah beberapa kali menggarap sistem informasi yang berbasis pemrograman. Hal ini juga menjadi penyemangat bagi saya untuk terus mengembangkan diri dalam hal pemrograman. Pekerjaan ini tidak membutuhkan banyak modal, hanya duduk didalam kamar dan bisa dikerjakan dimana saja, sehinggan nanti saat lulus saya tidak harus repot-repot mencari pekerjaan. Selain beberapa hal diatas, hasil pekerjaan saya mendapat fee yang lumayan gede.. Hehehe

Tapi kenyataan yang harus saya terima setelah lulis kuliah jauh dari rencana yang telah tersusun dengan bagus. “Hidup itu bagaikan roda, ada kalanya diatas dan ada kalanya juga dibawah. Dua keadaan ini pasti terjadi dan akan dialami oleh siapa saja”. Begitu pesan orang tua saat saya menceritakaan bahwa saya belum menemukan jalan untuk mewujudkan impian dan cita-cita yang telah saya rangcang sejak masih dibangku kuliah. Garapan sistem informasi semakin sepi, karena ternyata beberapa teman seangkatan yang sudah sama-sama lulus, juga menerima jasa seperti saya.

Banyak yang bilang bahwa manusia hanya berencana, sedangkan yang menentukan adalah Tuhan. Dan, mau tidak mau saya harus sepakat dengan itu karena saya sedang mengalaminya. Saya harus bersikap realistis. Jika keadaan tak se-ideal yang saya rencanakan, maka saya harus meng-idealkan diri agar keadaan bisa menjadi sahabat yang baik. Maka sejak garapan sistem informasi sepi, saya mulai menyebarkan beberapa surat lamaran ke perusahaan dengan harapan bisa bekerja yang berkaitan dengan IT. Hasilnya lumayan baik, dua perusahaan telah memanggil dan menginterview saya, tetapi entah alasannya apa saya belum dipanggil lagi dan dinyatakan lulus. Ada juga satu perusahaan lain (yang ini dibawahnya BUMN) telah menerima saya, dan hampir dua minggu saya bekerja sebagai admin sekaligus IT controller. Tapi kenyataan pahit harus saya terima dan sebab musababnya adalah orang tua yang tidak setuju dengan pekerjaan saya yang sekarang. Alasanya karena lingkungannya tidak baik. Memang, saya menyadarinya bahwa bekerja di kota dan bergaul dengan orang banyak serta dari berbagai kalangna akan ada banyak masalah. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan saya putuskan untuk mengikuti saran orang tua. “Ambu bheih lah, engkok arassah tak nyaman mun ben alakoh neng jiyah. Jek tanyaagi arapah, karnah ariyah rassanah deddih oreng tuah. Ella ambu, pas abelih pole ka ponduk. Pola neng dissak bedeh, kan ben pas bisa ngabdih”. Sudah berhenti saja, jangan tanya alasannya kenapa. Karena ini rasa dan tanggung jawabnya menjadi orang tua. Ada perasaan was-was jika kamu bekerja disana. Kembali kepondok saja, barangkali kamu bisa mengabdi disana.

Belum genap sebulan saya kembali ke pesantren, saya mendapatkan kabar baik. Saya disuruh membuat surat lamaran oleh paman (yang kebetulan pengurus pesantren pusat) dan diberikan kepada kepala SMP. Kabarnya, seorang karyawan baru saja berhenti karena boyongan pesantren dan lembaga ini sedang membutuhkan penggantinya. Awalnya sempat ragu, karena saya tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dalam dunia pendidikan. Saya konsultasikan kepada banyak orang akan hal ini, termasuk juga salah satunya adalah guru saya selama ini. "Jangan dilihat pekerjaan dan jabatannya, lihat lemabaga pesantrennya. Insyaallah barokah. Tak banyak orang seberuntung kamu bisa diterima mengabdi dipesantren. Belum lagi tak sedikit orang yang bekerja diluar pesantren bingung dengan hidupnya, tapi coba kamu perhatikan guru-gurumu yang lain yang mengabdi dipesantren, semua bahagia meski sederhana. Meski ini semua bergantung dengan keputusanmu, pesan saya, terimalah!". Panjang lebar saya menerima petuah dari sang guru. Dan akan saya jadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk mengambil keputusan. Lain guru, lain pula orang tua. Saat saya minta pendapatnya, hanya beberapa kalimat saja yang diucapkan. "Buat secepatnya! Jangan sampai kamu tolak. Ini adalah jalan awal untuk mewujudkan cita-cita yang menurutmu tidak pernah ditemukan sebelumnya". Jika guru masih memberi kebebasan memilih, orang tua mengharuskan untuk dipilih.

Dari berbagai masukan yang telah saya terima, dan dengan mengucap bismillahirrohmairrahim, saya putuskan untuk membuat surat lamaran. Satu pertimbangan lagi yang tetap menjadi semangat saya adalah tenaga yang dibutuhkan adalah TU. Setahu saya, menjadi TU tidak sulit-sulit amat dan paling tidak lembaga ini akan menjadi tempat untuk mengamalkan ilmu yang telah saya dapat dan untuk mengabdi kepada pesantren yang sudah sepuluh tahun lebih saya hidup didalamnya.

Hari-hari pertama masuk kantor sebagai karyawan di salah satu SMP pesantren, saya sering merasa kikuk. Banyak hal baru yang saya temui baik yang biasa dan tidak biasa. Tetapi untungnya semua masyarakat disekolah ini asyik untuk diajak bergaul. Jadi saya bisa mengendalikan kekikukan saya. Hehe
Lama kelamaan rasa kikuk itu mulai hilang dan saya sangat menikmati pekerjaan ini, pekerjaan yang tidak pernah terbersit dalam cita-cita. Ini terbukti setelah setahun mengabdi, selain menjadi TU saya juga sudah mengampu mata pelajaran. Semakin banyak lagi nikmat yang saya dapatkan dari pekerjaan diluar cita-cita, alhamdulillah.. Saya benar-benar bersyukur bisa terlibat langsung dalam dunia pendidikan. Saya banyak belajar dari lembaga tempat mengabdi, baik dari teman guru, peserta didik, petugas kantin dan semua masyarakat sekolah. Dan satu lagi yang saya yakini sampai sekarang, petuah guru tentang kesederhanaan dan pendidikan. Ya, saya percaya bahwa meski sederhana, saya bahagia! Terimakasih, guru..

Saat ini, ketika ada yang bertanya saya bekerja apa dan dimana, maka saya akan menjawabnya dengan cepat dan sangat bangga, "Saya Guru di SMP Nurul Jadid Paiton".

**

BAGIKAN TULISAN INI

5 Komentar untuk "Menjadi Guru SMP : Ketika Cita-cita tak Sejalan dengan Kenyataan"

  1. Alhamdulillah juga sudah utuh berkeluarga juga jenengan Mas. Tinggal menjalani hari demi hari yang insyaallah makin baik. Saya malah baru mau mulai nih, baru akan terjun ke dunia perkuliahan. Hehe..

    BalasHapus
  2. berbahagialah menjadi guru, jasanya tiada tara, dibanding aku penyuluh, guru lebih dipandang dan lebih diperhatikan oleh pemerintah setempat

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah ya mas. Udah nemuin pekerjaan yang cocok untuk diri mas. Jadi guru itu enak, loh, karena ilmu yang kita bagi nantinya akan bermanfaat untuk orang lain. Dan pahalanya nggak bakal putus, hehehe.

    BalasHapus
  4. Guru adalah pekerjaan mulia yang jika dijalani dengan tulus dan ikhlas kebahagiaan dunia akhirat insya Allah akan diraih, sukses trus ya mas.

    BalasHapus
  5. Guru adalah pekerjaan yang mulia. Jalani aktivitas kerja dengan tekun dan diniati ibadah. Insya Allah rejeki mengikuti :) hehehe

    Sukses selalu ya mas, salam dari Bojonegoro

    BalasHapus

Tulis Komentar Anda untuk tulisan saya diatas

Anda SANGAT DILARANG berkomentar dngan tidak baik dan mengandung unsur SARA.
Setiap komentar Anda akan otomatis tampil, namun semua komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya, akan ditampilkan atau tidak atau malah akan saya hapus.
Jika Anda akan membalas komentar, gunakan tombol Balas dibawah komentar yang akan Anda balas.

Orang baik, berkomentar dengan baik.
Saya bangga Anda menjadi komemtator yang baik.