Tergantung, Pengusaha atau Karyawan

Ini cerita tentang teman saya, teman yang berhenti menjadi karyawan dan katanya ingin menjadi pengusaha, tapi kemudian ia memutuskan untuk menjadi karyawan lagi. Cerita ini bukan maksud untuk menjelekkan seseorang atau salah satu pekerjaan. Hanya sekedar sharing saat semalam saya ngobrol dengan teman yang kebetulan sudah menjadi alumni dan telah berkeluarga dengan dua orang anak.

Jadi ceritanya begini..
Setelah hampir dua tahun dia menjadi karyawan, dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Alasannya pun simple. Dia ingin menjadi pengusaha dibidang ikan asin. Bagi saya ini bukan hal yang mustahil. Disamping karena sudah menjadi cita-cita lamanya sejak di pondok dia juga katanya tinggal di daerah pesisir. Alasan lain yang dia ceritakan adalah sudah tidak betah menjadi karyawan dengan tuntutan pekerjaan yang itu-itu saja.

Singkat cerita, dia sudah memulai usahanya. Dia mulai membeli ikan asin kering dan kemudian dikirimkan kepada tengkulak yang biasa mengekspor hasil olahannya keluar negeri.

Setelah usahanya berjalan sekitar dua bulan dia baru sadar, kalau keputusannya itu terlalu terburu-buru. Dia baru sadar, bahwa bekal yang disiapkannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan usaha dan kebutuhan hidupnya.

Dia terlalu berambisi untuk menjadi pengusaha sukses tanpa sadar bahwa menjadi pengusaha membutuhkan proses yang panjang. Hasil yang diharapkan dari usahanya tidap seperti yang ia harapkan. Akhirnya yang terjadi adalah, bekal yang awalnya mau digunakan untuk modal, digunakan untuk biaya kehidupan sehari-hari.

Hingga pada suatu ketika, usaha yang dirintisnya belum menunjukkan hasil yang maksimal sementara dia juga membutuhkan bekal untuk kehidupan keluarganya. Dan yang paling parah adalah, dia bangkrut dan terpaksa menutup usahanya serta kembali menjadi karyawan pada perusahaan yang berbeda.

Oke, cerita selesai. Saatnya mengambil keputusan, hehehe
Dari cerita ini saya mendapatkan pelajaran penting, yaitu:
  1. Saat mengambil keputusan besar dalam hidup, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan masa depan, harusnya siap dengan mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi.
  2. Menjadi pengusaha bukan satu-satunya jalan untuk sukses. Menjadi pengusaha juga bukan hanya dilatarbelakangi oleh keinginan hidup yang katanya bebas, bebas semau kita. Karena, tak semuanya menjadi pengusaha enak. Dalam keadaan tertentu, malah lebih enak menjadi karyawan.
  3. Menjadi pengusaha memang bebas, bebas semau kita. Tapi menurut teman saya ini, dia selalu dibebani oleh pikiran yang kadang bingung, jika tidak benar-benar siap dengan semua kemungkinan.
  4. Semua pekerjaan ada kelebihan dan kekurangannya. Tergantung kita, mau pilih yang mana yang pas dan sesuai dengan kondisi kita masing-masing.
Benar begitu, bukan?

Salam saya..
BAGIKAN TULISAN INI

32 Komentar untuk "Tergantung, Pengusaha atau Karyawan"

  1. yg enak ya dua-duanya, kayak saya. he...he....usaha lagi cupet masih ada gaji. qiqiqi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha..
      Iya ya mbak.
      Ide bagus nih. Sambil jadi karyawan, juga sambil jadi pengusaha.
      Good Job mbak, bisa saya tiru. :)

      Hapus
  2. setiap perjalanan sukses yang panjang harus disiapkan modal yg banyak termasuk mental apalagi udah menyangkut keluarga....
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah..
      Iya betul mas, selain bekal materi, bekal mental juga dibutuhkan. :)

      Hapus
  3. Kalo aq boleh milih, mau jd pengusaha aja sih hihih, bisa semau gue!!!

    tp ya utk jd pengusaha memang butuh bekal, gak cuma pengen tp ya memang butuh kerja keras

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari cerita-ceritamu di Facebook memang keliatan kok, kalau kamu memang pengen banget jadi pengusaha. :)

      Betul.. Jadi persiapkan mulai sekarang ya, biar jadi pengusaha dan bisa jadi pengusaha sukses.

      Amin..

      Hapus
  4. Yg jelas jadi pengusaha itu ga segampang dn seenak yg bnyak dceritakan org2 sukses atw motivasi dmana2.. tentu tuk dpetin itu malah justru proses nya bsa lama dn bsa jga lbh sulit ktmbg jdi karyawan... bnyk emg kjadiannya kita2 mau yg jalan singkat lgsung berhasil aja..

    Pdhal yg pntg ikhtiar dn ttp ikhlas jalani nya.. Insya Allah hsilnya baik.. bkn begitu Mas??

    Salam Pak Guru.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. Komentarnya pengusaha memang beda ya. Murni dari dalam hati. Hehe
      Kalo masalah pengusaha sih, saya rasa lebih faham sampean mas. Kan sekarang sudah jadi pengusaha. :)

      Salam pengusaha sukses.

      Hapus
  5. betul,,yg enak itu emang jadi dua-dua nya,,hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah ngalamain kan sampean mbak?
      Bagi tips dong. :)
      Siapa tahu nanti teman saya bisa mebacanya. Hehe

      Hapus
  6. Harus siap dengan segala konsekuensi, itu intinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar...
      Apapun pekerjaannya, konsekuensi memang akan selalu ada. :)

      Hapus
  7. Menurut ku, temen Abang itu terlalu muluk.. Maaf ya, cuma mau ngomong jujur aja nih. Kalo jadi pengusaha itu awalnya jangan mikirin untung sekian persen, ekspor, dll. Tapi pikir dulu BEPnya kapan dan berapa lama. Mesti disesuaikan sama keadaan kita.

    Intinya sih butuh proses dan mau ngambil resiko, Bang. Kalo baru sekali gagal trus putus asa yah mungkin itu memang pilihan hidup dia kali ya. Tapi pengalaman bapak ku emang merintis selama 20 tahun baru dapet hasilnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan terlalu muluk sih, tapi karena dianya yang kurang siap. Jadi ya begitu yang terjadi.
      Sekali gagal lalu putus asa itu juga yang saya sayangkan. Tapi kata dia, untuk makan saja sudah repot, masak masih harus memaksa untuk menjadi pengusaha, sementara istri dan dua anaknya pun butuh makan. Ya dengan terpaksa dia tutup usahanya dan menjadi karyawan lagi.

      20 tahun? Lama amit.??? :)

      Terimakasih ya..

      Hapus
    2. Hahah.. Ya muluk lah. Baru memulai uda pengen ekspor, ambil sekian banyak trus jualin ke tengkulak. Kebanyakan pengusaha yang aku kenal ngga mikir ekspor dulu dan jual secara kilo-kiloan banyak, tapi mikir kapan BEPnya balik, berapa lama.. Kalo uda balik modal, baru bertahap pengen produksi trus distribusiin ke satu kecamatan, dan selanjutnya.. Tapi maaf ya kalo pendapat saya kurang berkenan.

      Iya lumayan lama, karena ada beberapa hal yang ternyata mesti diperbaiki :)

      Hapus
    3. Oh, begitu..
      Semoga terus sukses ya, usaha Bapaknya. :)

      Hapus
  8. mau tuh jadi karyawan ataupun pengusaha, jalani aja dengan tekun bila pekerjaan kita yang sudah ada.
    tapi bener sih jadi pengusaha itu lebih baik lagi, apalagi usaha itu kita semakain lama berkembang ....
    sudah pasti kita akan mendapatkan yang lebih...

    pemuda kalau mau sukses 90% harus jadi pengusaha muda. persen selebihnya carilah sebagai apa kita. tapi semua itu harus ditekuni dengan baik. ini lah kata-kata yang ane dapat dari traning motivosi.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengusaha muda?
      Contohnya?

      Benar, sebenarnya tak semua harus jadi pengusaha sih mas, yang penting jalani saja yang ada. Syukuri juga, biar gag lupa diri.. :)

      Terimakasih..

      Hapus
  9. Sebisa mungkin punya basic sblm merintis sebuah usaha ya, Mas. Baca2 buku ttg wiraysaha juga penting. Mnjd referensi. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar..
      Gak pas tiba-tiba resign dari pekerjaan karena "pengen" jadi pengusaha. :D
      Kalo gak benar-benar siap, Bisa bahaya!

      Hapus
  10. Mau jadi pengusaha atau karyawan sama2 ada risikonya, sama2 ada enak-tidaknya. yang terpenting bagaimana kita menyikapinya agar pilihan profesi itu menjadi berharga dan patut diperjuangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjadikan pekerjaan pantas untuk berharga dan diperjuangkan. Ya, benar..
      Kalau sudah demikian apapun pekerjaannya kita akan tetap merasa nyaman dan benar-benar bisa menjalaninya. Pengalaman saya sih, begitu.. :)

      Hapus
  11. Jadi wirausahawan ataupun karyawan tidak jadi soal, asalkan pilihan itu dijalani dengan penuh tanggung jawab. Pengusaha maupun pegawai memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya yang juga kini merintis usaha merasakan betul bahwa mengelola usaha tidaklah mudah. Jika karyawan hanya harus bekerja delapan jam sehari, kami bisa bekerja lebih lama dari itu. Bahkan kadang tak kenal waktu. Jadi saya kurang sependapat bila wirausahawan punya waktu lebih banyak dan lebih bebas. Justru setiap saat kita musti memeras otak untuk mengembangkan usaha kita. Nilai plusnya, kami senang menjalaninya walaupun harus bekerja lebih lama.

    Intinya, jadi pengusaha atau pegawai sama-sama bisa mulia asalkan pekerjaan dilakukan dengan tanggung jawab dan menebar manfaat bagi orang lain.

    Sekian kecerewetan saya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, lho.. Berarti gak semua pengusaha bisa semau kita dong.!
      Atau mungkin ini akan berlaku saat usaha kita sudah mulai berkembang ya mas? Jadi kita membuka lapangan pekerjaan untuk usaha kita, kemudian setelah ada pekerjanya kita baru bisa semau kita.. :)

      Benar mas, apapun pekerjaan kita selama masih dalam "garis" halal, kerjakanlah dengan penuh rasa tangghung jawab.
      Terimakasih mas, atas kecerewetannya. :D
      Salam..

      Hapus
    2. Betul, Mas. Kalau bisnis dah stabil dengan sistem yang teruji, nah mungkin kita bisa lebih santai ya. Tapi kalau baru 5 tahun udah mau untung gede ya agak berat. Biasanya usaha udah mapan memasuki 10 tahun ataua satu dekade.Tapi ya dijalani aja ya Mas. InsyaAllah selalu ada jalan kalau kita berusaha. Termasuk biar bisa beli smartphone (saya juga ga punya android yang lebar, Mas, hehe).

      Soal teman Mas yang kembali jadi karyawan saya pikir ga masalah. Itu kan pilihan masing-masing. Nanti kalau dah punya modal lagi, bisa usaha lagi. Semoga kita diberi kemudahan dan kekuatan menjalani pilihan kita ya Mas. Sing penting berkah...Begitu kata Pak Ustaz hehe

      Hapus
  12. harus disiapkan segala sesuatunya untuk menjadi pengusaha ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bunda.. Kalau gak begituakan jadi seperti teman saya ini.. :)

      Hapus
  13. Kalau jadi Ibu rumah tangga gimana? #eh *celingak - celinguk cari calon suami* :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha
      Gimana ya?
      Bingung juga, habis belum ngalamin.. :)
      Ntar tak tanya-tanya dulu. Hehe

      Hapus
  14. Sebenarnya kalau saya pengen dua2nya mas, ya karyawan ya pengusaha, tapi karena saya bukan karyawan mau tidak mau harus jadi pengusaha donk, kalau engga usaha siapa yang ngasih makan anak2? semangatt! do'akan ya mas, saya sukses dalam usaha saya, aamin!

    BalasHapus
  15. Beberapa hari yg lalu ngintip baca majalah cewek CosmoGirl, ada artikel menarik soal Enterpreneur vs Employee. Dan emang ga ada yg salah mau milih yg mana juga, yg penting kerjanya senang dan nyaman.

    BalasHapus
  16. wah, iya mas, itu mah terburu-buru. kalau saya memang pengen jadi pengusaha, tapi pelan-pelan dulu, ngumpulin modal, malahan ini coba ngumpulin modal dari pekerjaan utama dan internet, whehehe.. semoga berhasil ya

    BalasHapus

Tulis Komentar Anda untuk tulisan saya diatas

Anda SANGAT DILARANG berkomentar dngan tidak baik dan mengandung unsur SARA.
Setiap komentar Anda akan otomatis tampil, namun semua komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya, akan ditampilkan atau tidak atau malah akan saya hapus.
Jika Anda akan membalas komentar, gunakan tombol Balas dibawah komentar yang akan Anda balas.

Orang baik, berkomentar dengan baik.
Saya bangga Anda menjadi komemtator yang baik.