Ibu Aisyah Minder dengan Profesinya

Wah. Sudah hari selasa.
Sudah pertengahan bulan juga..!
Selamat beraktifitas kawan.. 

Kali ini saya akan menulis yang tak seperti biasanya. Tak seperti biasanya yang hanya hahaha hihihi.. Yang akan saya bahas sedikit tentang profesi saya. Profesi guru kebanggaan saya.
Sedikit lho ya, kalau ada yang lebih banyak lagi, mari ditambahkan, dengan sangat terimakasih saya akan menerimanya..
Juga, bukan maksud membeicarakan kejelekan siapapun, hanya untuk bahan evaluasi pribadi, lebih-lebih untuk orang lain..

Oke, kemaren pagi, saat perjalanan mau ke kantor Diknas, saya satu angkot dan duduk bersebelahan dengan seorang guru. Seorang Ibu Guru yang mungkin berusia sekitar 45 tahun. Kami membicarakan banyak hal, mulai dari keluarga, pekerjaan, pendidikan dan banyak lagi lainnya. Dari pembicaraan itu akhirnya saya tahu kalau ibu ini mengajar disalah satu SMA Swasta, dan Aisyah adalah namanya.
Tapi saya agak sedikit tak terima (sebenarnya), saat ibu Aisyah menjawab pertanyaan saya, "Ibu kerja dimana?"
"Saya cuma guru biasa di SMA AlKh mas.."


Saya heran saja, kenapa ibu Aisyah memberikan embel-embel "cuma" pada profesinya. Adakah yang salah dengan profesi guru? Sehingga terkesan kalau ibu Aisyah minder?
Saya hanya diam, tak berani berargumen banyak tentang jawabannya. Saya alihkan pembicaraan dengan bertanya tentang keseharian disekolahnya.

**

Padahal setahu saya, untuk mendapatkan label "guru" bukan hal yang mudah. Untuk mendapatkannya harus memiliki skill khusus dan juga harus sesuai dengan ketentuan. Toh meskipun tak harus sesuai ketentuan, minimal seorang guru memiliki skill khusus, skill untuk mengajarkan apa yang dimilikinya, itu saya rasa sudah cukup.
Nah.. Menjadi guru adalah kebanggaan tersendiri buat saya, semoga demikian juga untuk guru yang lain. "Deddih guruh riah nak, muljeh. Muljeh neng dunnyah, muljeh neng akhirat, muljet ca'en manussah apah pole can Allah, pasteh sanget muljeh."
(Jadi guru itu mulia nak. Mulia didunia, mulia diakhirat, muliat menurut manusia, apalagi menurut Allah. Pasti sangat mulia). Begitu pesan Bapak beberapa waktu lalu, saat saya mengabarkan bahwa saya menjadi guru.

Kembali lagi kepada Ibu Aisyah, guru yang seakan-akan minder dengan memberikan predikat "cuma" pada profesinya. Kok saya merasa ada yang tak etis ya, ketika saya melihat atau mendengar ada seorang guru yang tidak bangga dengan profesinya.
Pertanyaan saya, saat sudah merasa tidak bangga akan profesinya apa tidak akan hilang kemampuannya? Apakah tidak akan lumpuh rasa kepercayaan dirinya? Lalu, seperti inikah guru kebanggaan bangsa?

Jauh dari kisah Ibu Aisyah diatas, ada yang lebih ironis lagi. Dan ini sepengamatan saya disekolah tempat saya mengajar. Dimana ada guru yang beranggapan bahwa, dengan profesi guru ia melaksanakan tugas mengajarnya hanya untuk mendapatkan upah saja. Tanpa memahami dengan benar label guru yang disandangnya. Lalu, jika masih ada guru yang demikian, jangan heran jika akan terlahir sebuah pembelajaran yang membosankan, kaku, hambar tanpa rasa, lebih-lebih akan terlahir karakter yang tak berwibawa.

Hakikatnya, ini juga masih menurut saya (semoga bukan hanya sekedar pendapat, tapi bisa mengaplikasikannya), guru bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran saja, melainkan ia juga harus total dalam semua aspek untuk anak didiknya, menyatukan jiwa-raganya agar nantinya timbul sendiri karakter guru yang layak untuk ditiru dan digugu.

Salam saya..
BAGIKAN TULISAN INI

24 Komentar untuk "Ibu Aisyah Minder dengan Profesinya"

  1. Good,,,ngapain kita malu dengan profesi kita,,selama profesi itu jelas dan halal,,so,,,malulah kita yg tak berbangga dengan itu semua,,eh mas btw gambarnya bagus,,kpan2 aku digambarkan spt itu juga ya,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar mbak..
      Makanya saya tak habis pikir saat Ibu Aisyah kemaren jawabnya begitu.
      Padahal, menjadi guru itu pekerjaan yang mulia.. :)

      Boleh..
      Inbox di Facebook saja mau buat yang seperti apa.. Hehehe

      Hapus
    2. FB udah nggak bisa ke pake kalo udah jam kerja,,ntar kalo nyampek rumah tak inbox yaw,,,

      Hapus
    3. Hehehehe
      Oke, siap..
      Good luck mbak..

      Hapus
  2. Padahal profesi guru itu mulia ya. Begitu pula kalau ada yang jawab cuma ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga itu pekerjaannya berat dan tidak ada habisnya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah..
      Iya juga ya bunda.
      Saya kok baru kepikir tentang ibu rumah tangga yang kadang di-embel-embeli "cuma" juga.
      Sip..
      Makasih bunda..
      Good luck untuk bunda dan keluarga..

      Hapus
  3. Saya baca embel-embel 'cuma' itu juga menggangu telinga saya, mas. jadi timbul kekhawatiran kalau tidak ada kebanggan terhadap pekerjaannya. apalagi kasus terakhir, kalau profesi guru ini hanya untuk kebutuhan ekonomi semata. apakah masih ada loyalitas dalam mengajar anak didik-didiknya. semoga tidak sekedar ngajar apa adanya, tapi benar-benar memberi ilmu dan contoh yang patut diteladani anak didiknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, itu dia mas. Jika misalkan sudah tak bangga dengan profesi gurunya, apa bisa ia memertahankan semangat mengajarnya?

      Saya rasa, jika misalkan sudah sisi ekonominya yang dikedepankan dalam mengajar, ya tidak akan ada tuh yang namanya loyalitas. Bagaimana mau loyal kalau yang dipikirannya cuma "duit" terus..
      Ya, benar. Memberi ilmu dan contoh yang baik. Insyaallah, akan lahir generasi bangsa yang berpendidikan bagus.

      Hapus
  4. Setuju dg tulisan ini.

    Guru itu bagi saya adl seorang pendidik, bukan "cuma" pengajar. Kl mengajar konotasinya di dalam kelas, mk mendidik jauh lebih luas dr itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar. Selain dikelas, seperti yang mbak bilang, mendidik jauh lebih luas. Tak perlu hanya terpaku pada mata pelajaran saja, jauh dari itu seorang guru harus bisa memberikan pendidikan yang baik kepada semua anak didiknya.
      Dalam semua sisi kehidupan tentunya. :)

      Hapus
  5. bagi saya justru guru adalah profesi yang mulia, dan saya bangga menjadi guru.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. Guru juga ya mbak..
      Semoga kebanggaannya bisa diaplikasikan dengan mengajar yang baik dan berkualitas.
      Salam..

      Hapus
  6. Setuju mas Bro, guru adalah profesi yang sangat mulia, saya mantan ibu guru di Tk dan SD, sekarang saya engga ngajar lagi bukan karena minder tapi banyak hal yang menjadi pertimbangan baik secara fsikis maupun sosial, namun sangat disayangkan banyak sekali guru jadi2an sekarang ini, menjadi guru karena mengejar materi semata, kuliahpun asal dapat S1 di tangan saja tanpa tahu tujuan belajar dan mengajar sehingga kurikulum pun masih memakai CBSA alias Cul Budak Sina Anteng, anak2 dibiarkan yang penting engga ribut, tanpa memikirkan proses siswa belajar di dalam kelas, hasilnyapun asal memberi nilai saja, astagfirullah! maaf kalau saya salah komen! salam dari Cianjur!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru jadi-jadian?
      Kok malah tambah serem ya istilahnya.
      Itu nama kurikulumnya keren mbak, meski saya gag faham artinya tapi saya faham maksudnya. :)
      Ironis sekali memang, saat seorang guru memberikan nilai tanpa melakukan proses mengajar yang maksimal. Biasanya guru yang begini ini mempunya julukan guru 3D, Datang, Duduk dan Diam.
      Ya, semoga kualitas guru dnegeri kita akan lebih baik.
      Terimakasih komentarnya mbak.
      Dan salam hangat dari Paiton Probolinggo.

      Hapus
  7. Ibu Aisyah bisa jadi merendah. Tapi, kalau merendah gak baik juga, ya?.

    Semoga kamu bisa ikhlas lahir bathin menjalani profesi sbg guru ya, MaKop. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merendah gak harus pakai kata "cuma" toh?
      Jadi bisa kan, dia jawab begini, "Saya guru di SMA AlKh mas., Sudah dua tahun dan bla bla bla ".
      Jadi kan tak terkesan bahwa dia minder.

      Amin..
      Terimakasih ya Idah.

      Hapus
  8. Hiks... padahal saya dulu sempat sekolah guru setahun dan tak jadi..... harusnya bersyukur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho? Kenapa tak jadi mbak?

      Oke, syukuri saja.. :)

      Hapus
  9. Dengan menjadi guru, semua ilmu yang diberikan beliau kepada murid akan menjadi amal jariyah. Dan mengajari manusia yang tidak tahu menjadi tahu itu kan bukan perkara yang gampang. Mesti punya stok sabar dan ikhlas. Jadi kalo menurut ku seharusnya Bu Aisyah dan guru-guru minder lainnya bisa berbangga hati karena menjadi guru :)

    BalasHapus
  10. Apapun profesi nya yg penting halal, ngak perlu malu atau minder.

    BalasHapus
  11. Kenapa harus minder ya, padahal kerjaan yg sangat mulia

    BalasHapus
  12. hehehe...mungkin si Ibu cuma merendah saja...

    BalasHapus
  13. Mungkin beliau merendah karena beliau merasa bahwa pekerjaan sebagai guru belum bisa memberikan kesejahteraan. Entah cakupan kesejahteraan itu hanya untuk beliau sendiri atau kebanyakan orang yang juga jadi guru. Anggapannya beliau sedang bicara dengan yang lebih muda yang notabene sering berorientasi pada materi maka beliau merendahkan profesinya itu. Bagaimanapun menurut naluri alami manusia, serendah-rendahnya pangkat/jabatan dengan gaji tinggi lebih membanggakan dibanding pangkat/jabatan tinggi namun digaji tidak terlalu tinggi. Miris memang. Kalau sampai saat ini banyak sekolah tinggi kedinasan/ikatan dinas yang meluluskan peserta didiknya langsung menjadi PNS non-guru--yang dianggap sejahtera--, belum ada sekolah tinggi kedinasan/ikatan dinas yang khusus meluluskan sebagai PNS guru. Yang ada hanyalah program PPG SM3T yang harus rela ditempatkan di pelosok, yang tentunya jauh lebih pahit daripada mekanisme yang ditetapkan oleh sekolah tinggi kedinasan/ikatan dinas yang ada ini. Itupun setelah PPG SM3T masih harus tes CPNS untuk bisa jadi PNS. Seharusnya prioritas 'kursi' menjadi PNS guru itu lebih diutamakan daripada PNS non-guru. Harus ada sekolah tinggi ikatan dinas yang bidangnya di pendidikan. Kalau perlu diperketat seleksinya agar nantinya benar-benar menghasilkan guru-guru yang profesional. Bagaimanapun guru adalah ujung tombak pembenahan bangsa yang tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan amal mendidik. Semua pihak harus realistis. Semua butuh uang untuk biaya hidup.

    BalasHapus

Tulis Komentar Anda untuk tulisan saya diatas

Anda SANGAT DILARANG berkomentar dngan tidak baik dan mengandung unsur SARA.
Setiap komentar Anda akan otomatis tampil, namun semua komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya, akan ditampilkan atau tidak atau malah akan saya hapus.
Jika Anda akan membalas komentar, gunakan tombol Balas dibawah komentar yang akan Anda balas.

Orang baik, berkomentar dengan baik.
Saya bangga Anda menjadi komemtator yang baik.