Sang Patriot, seperti Pelangi Setelah Badai

Ini cerita tantang sang patriot, sang patriot yang merupakan pelangi setelah badai.. Dan inilah pelangi saya, pelangi yang indah setelah badai, indah saat kami keluarganya membutuhkan kehadirannya..

Hari itu, saya lihat sosok laki-laki duduk di teras rumah dengan kepulan asap rokok dibibirnya, sambil sesekali disertai hela nafas panjang. Keluh kesah nampak sekali pada raut wajahnya yang mulai mengerut dimakan usia. Barangkali ia sedang berfikir tentang banyak hal, tentang kehidupannya, tentang beratnya beban yang ia pikul. Tapi selama ini ia tidak pernah mundur, ia terus maju dan tetap bertahan, bertahan dan berjuang untuk kehidupan kami keluarganya. Bukan satu atau dua tahun, tapi bertahun-tahun. Laki-laki itu adalah bapak saya, laki-laki yang saya anggap sebagai sosok patriot untuk saya, untuk kami keluarganya.

Enam hari dalam seminggu ia banting tulang peras keringat dengan menjadi tukang bangunan, pekerjaannya kasar sekali, melawan panas, menantang hujan. Saat ia tidak bekerja menjadi tukang bangunan, ia sempatkan untuk bercocok tanam di sawah yang dimilikinya. Sementara anak-anaknya sudah besar, menambah beban hidupnya dan mungkin ini yang dijakikan motivasi untuk terus berjuang dan bekerja. Apalagi salah satu dari anaknya sedang kuliah di Pulau Jawa yang itu membutuhkan biaya tidak sedikit.

Pagi, setelah shalat Shubuh ia ke ladang untuk mengumpulkan pakan sapi yang diapelihara dengan sistem bagi hasil dengan pemiliknya. Saat mentari sudah mulai terbit ia bergegas menyiapkan segala perlengkapan kerjanya untuk mencari uang. Jam setengah 7 ia berangkat dengan harapan akan ada secercah cahaya berbentuk kertas diraihnya. Itu dia lakukan bukan untuk apa, tapi untuk kami keluarganya. Hingga sore hari jam setengah lima ia baru pulang, membawa kebahagiaan untuk kami, setiap hari itulah yang dilakukan bapak kami dan suami ibu.

Kesederhanaan pribadinya sangat terlihat jelas dari sosok kurusnya, kurus bukan berarti kurang makan, melainkan karena mungkin ia terlalu berat dalam bekerja. Ia juga tidak banyak bicara, hanya akan bicara yang ia anggap penting. Sampai berbicara tentang masalah yang dihadapinya kepada kami, anak-anaknya pun jarang sekalai.

Ia bukan laki-laki berpendidikan, hanya tamatan SD, tapi kepedulian terhadap pendidikan kami anak-anaknya adalah yang paling utama.
"Asakolah pabhejeng, mumpung eppak ghik bisa nyareh bendeh kaangguy biaya, oreng andik elmuh muljeh ben gempang delem urusenah, benni engak eppak riyah, skabbinah egeressah berrek, sakabbinah koduh kalaben lakoh kasar. Eppak tak terro be'nah deddih engak eppak!".
Sekolah yang rajin, mumpung bapak masih bisa mencarikan biaya. Orang berilmu itu mulia dan gampang dalam semua urusannya, jangan jadi seperti bapak, semua serba sulit, semua harus bapak lakukan dengan kerja kasar. Bapak tidak ingin kalian jadi seperti bapak, ingat itu!.
Begitu pesannya kepada kami anak-anaknya. Dan itu bukan janji, itu bukti! Hingga sampai sekarang saya sudah selesai S1 dan adik perempuan saya sekarang masih kuliah semester enam sementara adik laki-laki saya masih kelas 2 SMP. Sekali lagi, ini bukan keadaan yang mudah untuknya. Ia terus bekerja dan berjuang untuk kami anak-anaknya dan kami keluarga kebanggaannya.
Dia adalah sosok patriot untuk kami, sosok terhebat yang Allah kirimkan untuk kami..

Meskipun dia bukan laki-laki romantis, tidak pula pandai merangkai kata untuk mengungkapkan isi hatinya tetapi ia sudah sekitar 30 tahunan membina rumah tangga. Ia sangat mencintai istrinya yang tak lain adalah ibu kami. Dengan penuh kasih dan cinta dia membina dan membangun rumah tangganya. Kami sangat bangga bisa memilikinya. Bisa merasakan kasih sayang darinya..

Namun... apapun itu, bagi saya ia adalah laki-laki yang paling hebat diduni. Saya selalu berdoa untuknya walaupun saya tidak pernah mengungkapkan cinta saya yang teramat besar padanya, tapi saya sangat menyayanginya..

Bapak.. Saya akan berusaha semampu saya, untuk menjadi seperti yang kau mau. Saya janji, kerja kerasmu selama ini tak akan pernah sia-sia..

Dan semoga dalam waktu dekat ini, apa yang saya bilang dulu akan segera terjadi..
"Istirahatlah sang patriotku.. Biar aku yang akan berkeringat untuk membahagiakannmu. Kini adalah giliranku, karena telah cukup semua pengorbananmu. Mengurusmu adalah kewajibanku, seperti yang telah kau lakukan saat aku terlahir dengan tangis dipangkuanmu.."

Istilah pelangi setelah badai, saya ambil dari blog Prit, dan tulisan ini saya ikutkan pada Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami.

Semoga bermanfaat dan salam saya..
BAGIKAN TULISAN INI

25 Komentar untuk "Sang Patriot, seperti Pelangi Setelah Badai"

  1. seseorang yang tidak tergantikan,,,,,, dan mampu memberikan arti bagaimanapun keadaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar mas..
      Apapun keadaannya ia selalu bersama kami keluarganya..
      Terimakasih..

      Hapus
  2. Patriot saya juga..bapak saya!

    BalasHapus
  3. Salut sama beliau, mas. kucuran keringat dan kerja kerasnya hanya ingin kehidupan anak-anaknya cemerlang di masa depan. mudah-mudahan keinginanmu bisa terwujud, mas. semoga beliau dan semua keluarga di sana, selalu diberikan kesehatan.

    Sukses tuk GAnya, mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...
      Terimakasih mas Richo..
      Salam untuk keluarga di Madura. :)

      Hapus
  4. saya salut dengan beliau setelah mebaca postingan ini :)

    BalasHapus
  5. Masya Allah .. merinding saya membacanya. Aamiin .. turut mengaminkan. Semoga bisa membahagiakan ayahanda yang mulia. Mudah2an beliau bisa menyaksikan anak2nya berhasil. Barakallah ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin..
      Terimakasih mbak Mugniar..
      Semoga apa yang menjadi cita-citanya mbak tercapai juga ya.. :)

      Hapus
  6. sudah ikutan GAnya mbak prit ya. semoga sukses ya

    BalasHapus
  7. Tekad yang mulia, Mas. Semoga dapat memenuhi harapan2 sang patriotnya... Amiin...

    BalasHapus
  8. setiap ayah adalah pahlawan bagi anak anak dan keluarganya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, termasuk bapak saya juga.. :)

      Terimakasih..

      Hapus
  9. ceritanya mengharu biru mas...sukses utk smuanya..moga yg diharapkan bpk terwujud dgn sempurna..amin

    salam kenal mas ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...
      Terimakasih dan salam kenal kembali.. :)

      Hapus
  10. Satu lagi ke inginan Sang Patriot yang belum terlaksana yaitu menggendong cucu dari anaknya, hehehe

    Sukses ngontesnya, Cak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha
      Kang Sofyan ini ada-ada saja ah..
      Pasti nikah kok saya.. :)

      Terimakasih kang..

      Hapus
  11. ayah memang selalu menjadi patriot bagi anak-anaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan hanya untuk anak-anaknya mbak, tapi untuk semua keluarganya.. :)

      Hapus
  12. bapakku pahlawanku :)
    walaupun kadang suka nakal sama bapak.....

    BalasHapus
  13. Matur nuwun mas sudah turut menyemarakkan Tasyakuran Sang Patriot

    BalasHapus

Tulis Komentar Anda untuk tulisan saya diatas

Anda SANGAT DILARANG berkomentar dngan tidak baik dan mengandung unsur SARA.
Setiap komentar Anda akan otomatis tampil, namun semua komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya, akan ditampilkan atau tidak atau malah akan saya hapus.
Jika Anda akan membalas komentar, gunakan tombol Balas dibawah komentar yang akan Anda balas.

Orang baik, berkomentar dengan baik.
Saya bangga Anda menjadi komemtator yang baik.